wadi’ah

BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar belakang.

Melihat zaman yang semakin maju, dan semakin rusaknya zaman, maka kajian fiqih sangat perlu untuk di ajarkan pada para generasi penerus.

Kajian fiqih ini sangat cocok di ajarkan pada generasi muda sekarang, di lihat dari hukum-hukum islam yang semakin kalah oleh modernisasi, para kaum muda pasti dapat merubah keadaan zaman yang semakin rusak ini, karena para generasi muda khususnya mahasiswa yang mempunyai semangat juang yang begitu tinggi untuk menegakkan keadilan.

Sehingga kajian fiqih yang khususnya wadi’ah yang di anggap beberapa orang tidak mempunyai cara-cara dan tatanan ini, sangat di perhatikan untuk suksesnya proses pengembalian hukum syariat islam itu sendiri.

 

B.      Rumusan masalah.

1.       Devinisi wadi’ah

2.       Landasan dasar hukum

3.       Rukun dan syarat

4.       Sikap dan akad wadi’ah

5.       Jenis-jenis wadi’ah

6.       Keadaan yang menyebabkan jaminan

7.       Hukum menerima benda titipan

8.       Rusak dan hilangnya benda titipan

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.      Devenisi.

Secara bahasa wadi’ah bisa diartikan dengan meningalkan atau titipan, sedangkan secara istilah wadi’ah adalah sesuatu yang dititipkan oleh satu pihak (pemilik) kepada pihak lain dengan tujuan untuk dijaga[1]. Ada juga yang mengatakan bahwa wadi’ah adalah memanfaatkan sesuatu di tempat yang bukan pada pemiliknya untuk dipelihara atau dijaga. Akad wadi’ah merupakan suatu akad yang bersifat tolong-menolong antara sesama manusia Menurut para ulama’ madzhab hanafi mendefinisikan wadi’ah sebagai berikut : “Mengikutsertakan orang lain dalam memelihara harta, baik dengan ungkapan yang jelas maupun melalui isyarat” Sebagai contoh, ada seseorang mengatakan : “Saya titipkan tas saya ini pada anda”, lalu dijawab : “Saya terima”, dengan demikian sempurnalah akad wadi’ah atau juga dengan cara : “Saya titipkan tas saya ini pada anda”, tetapi orang yang dititipi diam saja (tanda setuju).

Sedangkan menurut para ulama’ Syafi’i, Maliki, dan Hanbali (Jumhur Ulama) mendefinisikan wadi’ah sebagai berikut :

“Mewakilkan orang lain untuk memelihara harta tertentu dengan cara tertentu”.
Atau pemberian mandat untuk menjaga sebuah barang yang dimiliki atau barang yang secara khusus dimiliki seseorang, dengan cara tertentu.

 

B.      Landasan hukum.

Konsep wadi’ah mendapat pengakuan dan legalitas syara’, diantaranya firman Allah dalam Al-Qur’an surat An-Nisa : 58 yang berbunyi :

 

* ¨bÎ) ©!$# öNä.ããBù’tƒ br& (#r–Šxsè? ÏM»uZ»tBF{$# #’n<Î) $ygÎ=÷dr& #sŒÎ)ur OçFôJs3ym tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# br& (#qßJä3øtrB ÉAô‰yèø9$$Î/ 4 ¨bÎ) ©!$# $­KÏèÏR /ä3ÝàÏètƒ ÿ¾ÏmÎ/ 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. $Jè‹Ïÿxœ #ZŽÅÁt/ ÇÎÑÈ
Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat. (QS An-Nisa : 58)

 

Dan hadits Rasulullah SAW yang berbunyi :

“Serahkanlan amanat kepada orang yang mempercayai anda dan janganlah anda mengkhianati orang yang mengkhianati anda”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Hakim).

Berdasarkan ayat-ayat dan hadits di atas, para ulama’ sepakat mengatakan bahwa akad wadi’ah (titipan) hukumnya mandub (disunatkan), dalam rangka tolong-menolong sesama manusia. Oleh sebab itu, Ibnu Qudamah menyatakan bahwa sejak zaman Rasulullah sampai generasi berikutnya, wadi’ah telah menjadi ijma’ ‘amali yaitu consensus dalam praktek bagi umat Islam dan tidak ada orang yang menentangnya.

C.       Rukun dan syarat.

Menurut Hanafiyah rukun wadi’ah terdiri atas ijab qabul. Yakni, pemilik aset berkata : “Aku titipkan barangku ini kepada engkau atau jagalah barang ini, atau ambillah barang ini dan jagalah”. Kemudian pihak yang lain menerimanya. Orang yang melakukan kontrak disyaratkan orang yang berakal. Anak kecil yang tidak berakal (mumayyiz) yang telah diizinkan oleh walinya, boleh melakukan akad wadi’ah, mereka tidak mengsyaratkan baligh dalam soal wadi’ah. Sedangkan orang gila tidak dibenarkan melakukan akad wadi’ah.

Menurut jumhur ulama’ rukun akad wadi’ah terdiri atas ‘aqidan (orang yang berakad meliputi penitip dan penerima), wadi’ah (barang yang dititipkan), dan sighat (ijab qabul).

Adapun syarat dari ‘aqidan (orang yang melakukan akad wadi’ah) adalah baligh, berakal dan cerdas (dapat bertindak secara hukum), karena akad wadi’ah merupakan akad yang banyak mengandung risiko penipuan. Oleh sebab itu, anak kecil kendatipun sudah berakal, tidak dapat melakukan akad wadi’ah baik sebagai orang yang menitipkan maupun sebagai orang yang menerima titipan. Disamping itu, jumhur ulama’ juga mensyaratkan, bahwa orang yang berakad itu harus cerdas, walaupun ia sudah baligh dan berakal. Sebab, orang baligh dan berakal belum tentu dapat bertindak secara hukum, terutama sekali apabila terjadi persengketaan. Untuk wadi’ah (barang titipan) disyaratkan harus jelas, dapat dipegang dan dikuasai. Maksudnya barang titipan itu dapat diketahui jenisnya atau identitasnya dan dikuasai untuk dipelihara atau dijaga.

D.      Sikap dan akad.

Para ulama’ fiqh sepakat mengatakan, bahwa akad wadi’ah bersifat mengikat kedua belah pihak. Akan tetapi apakah tanggung jawab memelihara barang itu bersifat amanat atau bersifat ganti rugi?. Mereka juga sepakat bahwa status wadi’ah bersifat amanat bukan ganti rugi (dhamman), sehingga semua kerusakan penitipan tidak menjadi tanggung jawab pihak yang menitipi, berbeda sekiranya kerusakan itu disengaja oleh orang yang dititipi, sebagai alasannya adalah sabda Rasulullah SAW :

“Orang yang dititipi barang, apabila tidak melakukan pengkhianatan tidak dikenakan ganti rugi”. (HR. Baihaqi dan Darul-Quthni).

Dalam riwayat lain dikatakan :

“tidak ada ganti rugi terhadap orang yang dipercaya memgang amanat”. (HR.Daru-Quthni).

Dengan demikian, apabila dalam akad wadi’ah ada disyaratkan ganti rugi atas orang yang dititipi maka akad itu tidak sah. Kemudian orang yang dititipi juga harus menjaga amanat dengan baik dan tidak boleh menuntut upah (jasa) dari orang yang menitipkan.

 

 

E.      Jenis – jenis wadi’ah[2]

o           Wadiah yad amanah Pada keadaan ini barang yang dititipkan merupakan bentuk amanah belaka dan tidak ada kewajiban bagi wadii’ untuk menanggung kerusakan kecuali karena kelalaiannya.

o           Wadiah yad dhomanah. Wadiah dapat berubah menjadi yad dhomanah, yaitu wadii’ harus menanggung kerusakan atau kehilangan pada wadiah, oleh sebab-sebab berikut ini:

F.       Keadaan yang menyebabkan jaminan

  • Pemegang wadi’ah meninggalkan tugas penjagaan.
  • menggunakan wadi’ah.
  • Bermusafir dengan barang wadi’ah.
  • Menafikan wadi’ah.
  • Wadi’ah telah bercampur dengan barang yang lain

 

G.      Hukum menerima benda titipan[3]

1.       Sunnah

Disunnatkan menerima titipan bagi orang yang percaya kepada dirinya bahwa dia sanggup menjaga benda-benda yang dititipkan kepadanya. Al-Wadi’ah adalah salah satu bentuk tolong menolong yang diperintahkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, tolong menolong secara umum hukumnya sunnat.

Hal ini dianggap sunnat menerima benda titipan ketika ada orang lain yang pantas pula untuk menerima titipan.

2.       Wajib

Diwajibkan menerima benda-benda titipan bagi seseorang yang percaya bahwa dirinya sanggup menerima dan menjaga benda-benda tersebut, sementara orang lain tidak ada seorangpun yang dapat dipercaya untuk memelihara benda-benda tersebut.

3.       Haram

Apabila seseorang tidak kuasa dan tidak sanggup memelihara benda-benda titipan. Bagi orang seperti ini diharamkan menerima benda-benda titipan sebab dengan menerima benda titipan berarti memberikan kesempatan (peluang) kepada kerusakan atau hilangnya benda-benda titipan sehingga akan menyulitkan pihak yang menitipkan.

 

4.       Makruh

Bagi orang yang percaya kepada dirinya sendiri bahwa dia mampu menjaga benda-benda titipan tetapi ia kurang yakin (ragu) pada kemampuannya, maka bagi orang seperti ini dimakruhkan menerima benda-benda titipan sebab dikhawatirkan dia akan berkhianat terhadap yang menitipkan dengan cara merusak benda-benda titipan atau menghilangkannya.

H.      Rusak Dan Hilangnya Benda Titipan

Jika mustauda’ (orang yang menerima titipan) mengaku bahwa benda-benda titipan telah rusak tanpa adanya unsur kesengajaan darinya, maka ucapannya harus disertai sumpah supaya perkataannya itu kuat kedudukannya menurut hukum.

Namun Ibnu Munzir rh berpendapat bahwa orang tersebut di atas sudah dapat diterima ucapannya secara hukum tanpa dibutuhkan adanya sumpah.

Menurut Ibnu Taimiyah rh, apabila seseorang yang memelihara benda-benda titipan mengaku bahwa benda-benda titipan ada yang mencuri, sementara hartanya yang ia kelola tidak ada yang mencuri, maka mustauda’ tersebut wajib menggantinya.

Pendapat Ibnu Taimiyah rh ini berdasarkan pada atsar bahwa Umar ra pernah meminta jaminan dari Anas bin Malik ra ketika barang titipannya yang ada pada Anas bin Malik ra dinyatakan hilang, sedangkan harta Anas ra masih ada.

Orang yang meninggal dunia dan terbukti padanya terdapat benda-benda titipan dan benda-benda titipan tersebut tidak ditemukan maka ini menjadi hutang bagi penerima titipan dan wajib dibayar oleh ahli warisnya.

Bila seseorang menerima benda-benda titipan sudah sangat lama waktunya sehingga ia tidak lagi mengetahui dimana atau siapa pemiliknya benda-benda tersebut dan sudah berusaha mencarinya namun tidak dapat diperoleh keterangan yang jelas maka benda-benda tersebut dapat digunakan untuk kepentingan Islam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan.

Secara bahasa wadi’ah bisa diartikan dengan meningalkan atau titipan, sedangkan secara istilah wadi’ah adalah sesuatu yang dititipkan oleh satu pihak (pemilik) kepada pihak lain dengan tujuan untuk dijaga. Ada juga yang mengatakan bahwa wadi’ah adalah memanfaatkan sesuatu di tempat yang bukan pada pemiliknya untuk dipelihara atau dijaga.

Menurut para ulama’ madzhab hanafi mendefinisikan wadi’ah sebagai berikut : “Mengikutsertakan orang lain dalam memelihara harta, baik dengan ungkapan yang jelas maupun melalui isyarat” Sebagai contoh, ada seseorang mengatakan : “Saya titipkan tas saya ini pada anda”, lalu dijawab : “Saya terima”, dengan demikian sempurnalah akad wadi’ah atau juga dengan cara : “Saya titipkan tas saya ini pada anda”, tetapi orang yang dititipi diam saja (tanda setuju).

Sedangkan menurut para ulama’ Syafi’i, Maliki, dan Hanbali (Jumhur Ulama) mendefinisikan wadi’ah sebagai berikut :

“Mewakilkan orang lain untuk memelihara harta tertentu dengan cara tertentu”.
Atau pemberian mandat untuk menjaga sebuah barang yang dimiliki atau barang yang secara khusus dimiliki seseorang, dengan cara tertentu.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Djuwaini, Dimyauddin “Pengantar Fiqh Muamalah” , Pustaka Pelajar : Yogyakarta, Cet 1, 2008,

jacksite.wordpress.com/…/hukum-barang-titipan-dalamislamwadiah/

http://id.netlog.com/m_ibadur_rahman/blog/blogid=12539

http://id.wikipedia.org/wiki/Wadiah

 

 


[2] ibid

[3] jacksite.wordpress.com/…/hukum-barang-titipan-dalamislamwadiah/

Tentang go_elh

KETIKA ANDA JATUH ………… KETIKA ANDA GAGAL…………. KETIKA ANDA TIDAK MEMILIKI APA-APA……….. SESEORANG YANG BERSAMA ANDA………ADALAH TEMAN SEJATI ANDA KETIKA ANDA BERHASIL……….. KETIKA ANDA KAYA…………………. KETIKA ANDA DAPAT MEMILIH DAN DUNIA SEAKAN MILIK ANDA…………………. SESEORANG YANG BERSAMA ANDA……….BUKANLAH TEMAN SEJATI ANDA , IA MENGINGINKAN SESUATU DARI ANDA.
Pos ini dipublikasikan di KPI A. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s